Gunakan Trik Biar Sukses UN
UN atau ujian nasional tinggal menghitung hari. Tapi, yakin kamu udah siap? Masih berapa banyak materi yang belum kamu baca? satu dua bab/ SKL atau malah satu dua buku? Gimana kamu bisa lulus jika hari gini masih ada buku yang untouchable?!
By the way, untuk sebuah kesuksesan maka kerja keras itu wajib hukumnya. Klo kamu merasa udah cuaaaapek belajar, sampe nggak doyan makan dan yang terbayang di otak hanyalah rumus-rumus fisika /kimia/matematika atau ilmu apapun sesuai jurusanmu. Itu baru namanya kerja keras. Tp klo kamu masih bisa leha-leha, dan belajar 2 jam per hari sesumbar udah kerja keras, itu pertanda....
Trus...optimalkan waktu. AKu kadang sedih ngeliat kalian sudah loyo pada satu jam pertama ngerjakan soal. Lha yang satu jam lagi buat apa? Nunggu sumbangan jawaban dari teman? Nunggu jawaban turun dari langit(langit)? Kalian boleh mencontoh pemain Chelsea atau Liverpool, dimana mereka selalu menggunakan waktu secara optimal sampai detik (sekali lagi; sampai detik) terakhir hingga peluit dibunyikan. Siapa tahu, di detik-detik terakhir itulah barokah atas kerja kerasmu selama ini dibalas oleh Allah SWT.
Selanjutnya, kerjakan semua soal. Jangan sampe ada yang kelewatan. Gunakan berbagai cara berfikir, dari model logika, analogi, maupun perbandingan.
Terakhir, jangan takut atau nervous hanya karena di situ ada pengawas. Memang tampang mereka kadang nggak ramah. Tapi mereka memang ditugaskan negara untuk menjaga agar kegiatan UN berjalan lancar. Jadi hargai mereka juga. Yg jelas, sepanjang kalian nggak banyak tingkah, mereka akan menjadi sahabat kita kok.
Ok. Selamat menikmati UN SMA. Semoga ini adalah UN terakhir kalian (artinya besok nggak lagi ujian SMA). AMin
Lihat Cepat
Kamis, 26 Maret 2009
Jumat, 02 Januari 2009
Tahun Baru, Semangat Baru, Konsep Baru, Apa Iya?
Tahun baru 2010 akan segera tiba. Kadang-kadang orang terpukau menyambut datangnya detik-detik di awal tahun. Kadang-kadang karenanya mereka nggak mau tidur sampai pukul 00.00. Aku sih, memilih berselancar di dunia "maya" alias tidur sesuai jadwal tidurku.
Kenapa?
Ya simple aja. Di tahun baru...yang penting itu nunggu pukul nol-nolnya atau lahirnya 'ideologi', semangat, dan konsep baru dalam menapaki kehidupan?! Kalau aku sih lebih memilih yang 'kedua'. Nggak ada istimewanya pukul nol-nol di pergantian tahun. Paling-paling : macet di jalanan, bising, dan capek. Mending kalau nggak ada 'trouble' di jalan seperti : accident, ban bocor, atau malah kecopetan... Nah?!
Jadi, bagiku tahun baru kalaupun itu dianggap sebagai momentum, yah...mestinya yang orientasinya pada peningkatan kualitas kehidupan kita (?, caelaaaaah).
Kalau dikaitkan dengan profesi kita sebagai guru (kalau kebetulan anda bukan guru, sorry deh), ya...bagaimana trik-trik kita membuat siswa kita pada UN 2010 nanti bisa lolos semua dari jaring-jaring 'maut'.
Kalau konsepku sih sederhana. Begini !
1. Tanamkan pada siswa bahwa ujian harus dihadapi dengan muka tegak dan nggak perlu nervous. Bukankah ketika ujian tiba, itu berarti kita akan naik tingkat. Jadi mestinya kita justru menyambut ujian akhir dengan segala suka cita. Aku paling nggak suka jika orang-orang memandang UN sebagai seremoni yang sakral. Bupati bingung. Kadinas PK bingung, guru bingung. Ortu siswa bingung. Siswa? super bingung dan kalut. Dalam kondisi seperti ini nggak akan bisa berfikir secara cemerlang. So...mestinya kita colling down aja. Tenang nak...senyum nak, ujian akan menyambut kedewasaan kalian, begitulah...
2. Mintalah siswa untuk melakukan analisis SWOT terhadap dirinya sendiri berdasarkan hasil tes uji coba. Kita nggak perlu pasang target nilai terlalu tinggi. Kita hanya perlu target nilai lulus (dengan nilai minimum sekalipun). Jika batas kelulusan itu 4,50 ya nggak perlulah kita memaksa-maksa siswa agar dapat nilai 9 atau 10. Pastilah setiap dari 4 mapel yang diujikan ada yang telah memperoleh nilai lulus dan ada yang belum. Nah, mapel yang belum mencapai nilai lulus harus digenjot hingga mencapai nilai lulus. Sekali lagi, nggak perlu ngoyo, asal lulus saja, waton lulus! Lha wong di 'sono'-nya nanti (maksudku di SPMB / UMPT) nilai UN nggak diperhitungkan. Di dunia kerja juga nggak ditanya-tanya. Apalagi di KUA nanti...?!
Maaf, anda keliru jika menilai aku nggak concern terhadap kualitas pendidikan. Bagiku, kualitas pendidikan tidak diukur dari hasil UN. Kualitas pendidikan itu dihasilkan dari 3 tahun pendidikan di sekolah itu yang dikelola dengan sungguh-sungguh dan tidak bisa diukur 'hanya' dengan 50 butir soal pilihan ganda dengan waktu 2 jam. Kualitas itu menyangkut aspek kognitif, psikomotorik, afektif dan juga spiritual. Coba aja amati hasil UN secara nasional. Tidak satupun sekolah yang secara kontinyu memiliki prestasi UN yang tinggi. Bahkan, seringkali sekolah-sekolah yang tidak diperhitungkan sama sekali, tiba-tiba muncul sebagi sekolah dengan nilai UN terbaik se Indonesia. Nggak perlu kaget. Itu adalah konsekuensi dari model ujian pilihan ganda, di mana kecerdasan peserta tes berpeluang sama dengan 'keberuntungan' peserta tes. Dan naifnya nih.... peserta tes yang tidak lulus menjadi terpojok. Dicap tidak berhasil, bodoh. Sekolahnya itu menanggung 'dosa'. Kepala sekolah, guru, dan karyawannya juga kecipratan...'dosa'...wah-wah...
3. Di akhir semester, ada baiknya siswa kelas XII didata secara pasti menjadi 3 kelompok. Yaitu : 1) kelompok yang akan melanjutkan ke PT, 2) kelompok yang mau kerja dulu baru kuliah, dan 3) kelompok yang mau nikah dulu, bekerja lalu kuliah. Terhadap tiga kelompok ini sekolah memberikan perlakuan yang berbeda. Selama 4 - 5 bulan masih lumayan cukup untuk mempersiapkan mereka belajar materi-materi UMPT bagi yang mau kuliah. Bagi yang mau kerja, kita siapkan keterampilan yang berhubungan dengan cara=cara memperoleh pekerjaan spt: membuat surat lamaran, trik wawancara, tes skolastik, dll. Kita bekali mereka dengan keterampilan vokasional melalui kursus singkat : fotografi, sablon, jahit, batik sebagai modal wirausaha. Yang mau nikah dulu? Ya kita ajarkan mereka bagaimana mengelola rumah tangga dengan baik, mendidik anak, berwirausaha di rumah, dll
Jadi?
Kesimpulannya....kita cuma perlu nilai lulus untuk bisa lolos UN, nggak perlu target terlalu tinggi. Akan sedih rasanya ketika kita bisa meluluskan siswa kita dengan nilai 9 - 10, tetapi menemukan mereka meratapi hari-harinya dengan berpangku tangan karena kuliah tidak, bekerja tidak, cari pendamping pun susah!
Bukankah ini baru permulaan di tahun 2010?
Label:
2010,
Peserta Didik Baru,
tahun,
Ujian Nasional,
UN,
Unas
Selasa, 23 Desember 2008
tanamkan siswa cinta lingkungan
Isu global warming dan kampanye penanaman sejuta pohon oleh pemerintah pada dua tahun terakhir ini boleh jadi merupakan upaya menyadarkan manusia betapa pentingnya menjaga lingkungan tetap hijau. Namun, tidak bagi siswa SMA Negeri 1 Imogiri. Isu kerusakan lingkungan dan bahanya bagi bumi dan manusia telah mengendap dalam benak sejak enam tahun silam. Sehingga tak heran jika anak-anak di SMA Negeri 1 Imogiri begitu menunggu-nunggu bulan Desember, bulan di mana mereka bisa refresing sekaligus berbuat nyata untuk lingkungan.
Sebagai penggagas dan penggiat kegiatan seperti ini jelas banyak tantangannya. pada awalnya hanya ada beberapa gelintir siswa yang berminat. beberap teman guru ikut mendukung, tetapi lebih banyak yang skeptis. Sedih juga sih.
Alhamdulillah, pada tahun ke-5 mulai banyak siswa yang tertaril. Ada pula instansi pemerintah seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan, Departemen Kehutanan prop DIY, Bank BPD dan Jogja TV yang menyuport acara ini.
Nah, Desember 2008 ini adalah tahun ke 6 pelaksanaan penghijauan. kami berkerja sama dengan Desa Wukirsari dan mendapat dukungan dari Ketua DPRD Prop DIY, Bpk Gandung Pardiman. Jumlah siswa yang terlibat lebih banyak (sekitar 300 siswa) dan beberapa siswa SMP di Kecamatan imogiri juga ada yang berpartisipasi.
Untuk tahun depan, kami menunggu partisipasi anda.
Sebagai penggagas dan penggiat kegiatan seperti ini jelas banyak tantangannya. pada awalnya hanya ada beberapa gelintir siswa yang berminat. beberap teman guru ikut mendukung, tetapi lebih banyak yang skeptis. Sedih juga sih.
Alhamdulillah, pada tahun ke-5 mulai banyak siswa yang tertaril. Ada pula instansi pemerintah seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan, Departemen Kehutanan prop DIY, Bank BPD dan Jogja TV yang menyuport acara ini.
Nah, Desember 2008 ini adalah tahun ke 6 pelaksanaan penghijauan. kami berkerja sama dengan Desa Wukirsari dan mendapat dukungan dari Ketua DPRD Prop DIY, Bpk Gandung Pardiman. Jumlah siswa yang terlibat lebih banyak (sekitar 300 siswa) dan beberapa siswa SMP di Kecamatan imogiri juga ada yang berpartisipasi.
Untuk tahun depan, kami menunggu partisipasi anda.
Kamis, 18 Desember 2008
MENEKAN ANGKA KETERLAMBATAN SISWA
Siswa terlambat memang menjengkelkan. Mereka tidak saja mengganggu kegiatan siswa lain, juga merepotkan guru. maka kita sebagai guru harus pasang strategi agar siswa tidak terlambat.
nah, ini cara saya mengurangi angka keterlambatan siswa:
1. batasi keterlambatan maksimum 10 menit
2. siswa terlambat lebih dari 10 menit diberikan tugas lain dan tidak boleh masuk kelas
3. tugas yang diberikan ada dua pilihan : membuat resensi buku (pengetahuan umum/pelajaran/sastra) atau menulis cerpen/puisi atau esai selama jam pelajaran yang ditinggalkan
4. siswa yang terlambat 3 kali berturut-turut dipulangkan dan wajib mendatangkan orang tuanya ke sekolah
alhamdulillah, dengan model ini keterlambatan siswa dapat ditekan.
gami s
nah, ini cara saya mengurangi angka keterlambatan siswa:
1. batasi keterlambatan maksimum 10 menit
2. siswa terlambat lebih dari 10 menit diberikan tugas lain dan tidak boleh masuk kelas
3. tugas yang diberikan ada dua pilihan : membuat resensi buku (pengetahuan umum/pelajaran/sastra) atau menulis cerpen/puisi atau esai selama jam pelajaran yang ditinggalkan
4. siswa yang terlambat 3 kali berturut-turut dipulangkan dan wajib mendatangkan orang tuanya ke sekolah
alhamdulillah, dengan model ini keterlambatan siswa dapat ditekan.
gami s
Kamis, 04 Desember 2008
Untuk Sahabatku, Guru
Menjadi guru, konon harus merupakan panggilan jiwa. Oleh karena itu, sesungguhnya profesi guru adalah masalah sense atau selera. Sebab jika seseorang menjadi guru dengan target utama adalah penghasilan, maka visi guru sebagai salah satu pilar yang 'terlibat' dalam upaya mencerdaskan bangsa akan terkontaminasi. Jika sudah begitu, alih-alih akan menciptakan siswa yang cerdas, yang lahir justru siswa-siswa yang tertekan. Sebab realitas pendapatan guru yang pas-pasan akan melemahkan semangat mengajar dan kurang sabar.
Adanya sertifikasi guru yang muaranya adalah kesejahteraan, hingga kini belum sepenuhnya memosisikan guru secara adil. Sertifikasi yang telah berjalan, tak lebih sebagai ucapan terima kasih pada guru-guru yang telah mendekati masa akhir pensiun. Bahkan, bisa jadi pemerintah mengambil strategi ini untuk menekan anggaran pendidikan di satu pihak, tetapi tetap dinilai concern terhadap nasib guru di lain pihak.
Maka, jika anda adalah seorang guru saya mengajak marilah kita tekuni profesi ini sebagaimana hakikatnya. Hakikat guru adalah mencerdaskan peserta didik. Merubah perilaku negatif peserta didik. Bahwa kita membutuhkan harta untuk hidup, ya. Tetapi, jika kita ingin kaya dari profesi guru(saja), saya rasa terlalu absurd.
Jadi, marilah kita mengelola siswa-siswa kita dengan hati dimana kita menitipkan perut di dalamnya. Jangan sebaliknya. Jika kita ingin membesarkan perut dari siswa, maka biasanya hati kita menjadi tidak peka. Siswa-siswa yang dihasilkannyapun hanya akan memikirkan perutnya saat mereka dewasa dan bekerja.
Gami S
Langganan:
Postingan (Atom)